ITULAH HARAPAN – Bila Dendam Tak Lagi Perlu


ITULAH HARAPAN – Bila Dendam Tak Lagi Perlu

📍 Setiap malam kita pergi tidur,
Tanpa jaminan akan hidup keesokan harinya…

Tapi tetap juga kita pasang alarm,
Tetap juga kita niat nak buat itu dan ini esok hari.
Seolah-olah yakin benar kita akan bangun.
Itulah harapan.
Harapan yang lahir dari percaya,
bahawa esok masih ada,
walaupun hakikatnya belum tentu milik kita.

🌙 Tapi hairannya,
manusia begitu pandai meletakkan harapan kepada hari esok,
Tapi begitu sukar meletakkan kemaafan kepada manusia.

Mengapa perlu membenci sampai tak bertegur sapa?
Sedangkan segalanya pinjaman —
umur, rezeki, pangkat, bahkan nafas.
Satu pun bukan kita punya.

Dan lebih menyedihkan,
kadang yang lebih berumur, bersikap kebudak-budakan.
Menjauhkan diri dari yang lebih muda,
sedangkan mereka itu hanya seumur anak-anak mereka.
Apa salahnya bersembang?
Apa salahnya menjadi dewasa bukan sekadar pada angka,
tapi juga pada jiwa?

🌿 Abang percaya,
tak rugi jadi yang memulakan maaf.
Tak hina jadi yang lembutkan hati.
Allah tak pandang siapa yang dulu,
tapi siapa yang bersih hatinya dulu.

Dan kalau Allah setiap hari beri kita peluang hidup walau kita penuh dosa,
kenapa kita tak mampu beri orang lain peluang untuk didekati semula?

💌 Kalau ada yang bermasam muka denganmu hari ini,
tetap doakan dia.
Tak perlu tunggu dia minta maaf.
Tak perlu benci.
Sebab…
memaafkan itu tanda hati yang sembuh.

Dan itulah harapan yang sebenar—
bukan hanya yakin pada esok,
tapi yakin bahawa hati manusia masih boleh berubah,
masih boleh memaafkan,
masih boleh berkasih sayang.


✍️ #MonologJiwa #JMBELOG
Label: Harapan, Maaf, Refleksi, Jiwa Yang Tersakiti, Catatan Kehidupan

Catat Ulasan

0 Ulasan