Terkadang Ketenangan Itu Pilihan


MONOLOG JIWA – Terkadang Ketenangan Itu Pilihan

TERKADANG KETENANGAN ITU PILIHAN

Ada satu hakikat yang jarang kita sedari: ketenangan itu tidak selalu datang kerana hidup kita baik-baik saja. Kadang ia hadir kerana kita, dalam diam, memilih untuk tidak lagi peduli pada hal-hal kecil yang menyakitkan hati. Ia bukan kelemahan, tetapi keberanian untuk menjaga jiwa sendiri daripada luka-luka yang tidak perlu.

Kita sering dibesarkan dengan anggapan bahawa sabar itu hanya bermakna menahan marah, menahan diri, menahan kata. Tetapi sabar itu juga bermakna tahu bila harus mengundurkan diri, tahu bila harus memilih diam, tahu bila harus membiarkan sesuatu berlalu tanpa perlu dibalas. Sabar itu bukan pasrah, tetapi seni menjaga hati agar tetap tenang, walau di sekitarnya ribut sedang menggila.

Terkadang, kita tidak perlu menang dalam setiap hujah. Terkadang, kita tidak perlu menjelaskan segalanya. Terkadang, kita hanya perlu senyum, dan diam, dan menyerahkan selebihnya kepada Allah yang Maha Tahu isi hati kita.

Seiring masa berjalan, kita akan belajar bahawa tidak semua perkara layak kita tangisi. Tidak semua pandangan orang perlu kita ambil hati. Tidak semua kata-kata yang menusuk harus kita balas dengan kata. Ada perkara yang lebih baik kita lepaskan begitu saja, agar jiwa kita tidak menjadi sarang dendam dan marah.

"Ketenangan itu, pada hakikatnya, lahir dari pilihan. Bukan pilihan yang mudah, tetapi pilihan yang sedar."

Pilihan untuk tidak lagi membiarkan hal-hal kecil merampas kebahagiaan kita. Pilihan untuk menyayangi diri sendiri dengan tidak memaksa hati memikul yang bukan haknya. Pilihan untuk berkata: "Aku tidak perlu sempurna. Aku tidak perlu difahami semua orang. Aku tidak perlu menang semua perkara. Aku hanya perlu tenang."

Ketika hati mula belajar melepaskan, hidup terasa lebih ringan. Ketika kita memilih untuk mengabaikan perkara kecil yang menyakitkan hati, kita sebenarnya sedang mendidik jiwa agar lebih matang. Kita sedang mengajar diri bahawa bahagia tidak selalu datang dari luar, tetapi dari dalam. Bahagia itu hadir ketika kita mengawal reaksi, bukan memaksa keadaan. Bahagia itu hadir ketika kita belajar berkata: "Aku tidak akan biarkan hal kecil mengganggu kedamaian hatiku."

Dan benar, diam itu bukan tanda kalah. Diam itu tanda kita menghargai diri sendiri. Diam itu tanda kita memilih kedamaian daripada konflik yang sia-sia. Senyum itu bukan topeng, tetapi doa agar kita kuat. Senyum itu tanda kita melepaskan yang berat, lalu menggantinya dengan harapan baru.

Setiap kali kita merasa penat menghadapi kata-kata yang menusuk, kita boleh berkata dalam hati: "Ya Allah, jagalah aku daripada menjadi orang yang mudah marah, mudah sakit hati, dan mudah berdendam. Jadikanlah aku orang yang lembut hatinya, yang memilih ketenangan walau dunia mengajakku untuk bising."

Ketenangan itu mahal. Ia bukan sesuatu yang jatuh dari langit tanpa usaha. Ia perlu dilatih, dipupuk, dan dijaga. Dengan doa, dengan kesabaran, dengan belajar mengenali diri sendiri. Ketenangan itu bukan hadiah orang lain, tetapi hadiah kita kepada diri kita sendiri – dengan izin Allah.

Di penghujung setiap hari, sebelum kita tidur, cuba ucap pada diri: "Aku maafkan yang menyakitiku. Aku lepaskan yang membebaniku. Aku reda dengan yang tidak dapat kuubah." Kata-kata kecil ini, bila diulang setiap malam, menjadi benteng kecil yang menjaga jiwa kita. Ia mengajar hati agar lebih lembut, dan lebih berserah kepada Tuhan.

Hari esok mungkin tetap sukar. Ujian mungkin tetap datang. Tetapi hati kita sudah belajar seni untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil. Dan dari situlah ketenangan yang sebenar lahir.

Doa Ketenangan Jiwa

Ya Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
Tenangkanlah hati kami dari kegelisahan yang tidak perlu,
Jauhkanlah kami dari rasa marah yang membakar jiwa,
Jadikanlah kami insan yang sabar, yang memilih untuk memaafkan,
Yang memilih untuk mengabaikan hal-hal kecil yang menyakitkan hati.
Limpahkanlah kepada kami ketenangan dalam setiap ujian,
Kekuatan dalam setiap kesukaran,
Dan senyuman yang lahir dari hati yang reda dengan ketentuan-Mu.
Aamiin.

Catat Ulasan

0 Ulasan