Aku Berdamai Dengan Caraku


Aku Berdamai Dengan Caraku

Dulu aku rajin menegur,
bukan sebab suka-suka,
tapi bersebab.

Namun niat sering disalah anggap.
Aku sedar aku,
tidak pandai,
tidak bijak,
tiada apa-apa yang bagus.

Perlahan-lahan,
aku kembali menjadi aku yang dulu.
Kini aku lebih memilih diam,
dan aku rasa itu yang terbaik.

Anda buatlah apa yang anda rasa baik.
Orang tanya, aku jawab.
Orang diam, aku pun diam.
Bukan sebab sombong.

Caraku mungkin pelik.
Selisih bahu pun aku tak menegur,
kecuali orang menegur aku dahulu.
Bukan sebab sombong,
aku cuma lebih mudah tersenyum.

Bab makan pula—
kalau orang hulur depan mata,
barulah aku ambil.
Kalau hanya kata,
“nanti ambillah ya”,
maaf… aku takkan ambil.

Bukan menolak,
aku sendiri tak tahu kenapa.
Yang tahu,
saja yang tahu.

Ya, aku memang manja.
Bukan untuk tunjuk baik.
Sepuluh kali berjumpa,
sepuluh kali aku cium tangan.
Yang tahu,
saja yang tahu.

Pelikkan aku?

Tak mengapa.
Aku sudah lama belajar berdamai
dengan caraku sendiri.


Kadang-kadang diam bukan tanda menjauh,
tapi cara paling selamat untuk menjaga hati.
Tidak semua perlu difahami orang,
cukup kita jujur dengan diri sendiri.

Doa Penutup

Ya Allah,
jika diam ini lebih dekat dengan ketenangan,
maka peliharalah aku dalam diamku.
Jika senyap ini cara aku bertahan,
maka kuatkanlah hatiku tanpa perlu aku menjelaskan segalanya.

Ajarkan aku redha,
tanpa perlu dipuji,
tanpa perlu difahami semua orang.
Cukuplah Engkau yang tahu isi hatiku.

Aamiin Ya Rabb.

Catat Ulasan

0 Ulasan