Penantian Luka — Sebuah Kisah Cinta Yang Tidak Dijaga

Penantian Luka — Monolog Jiwa

Penantian Luka — Sebuah Kisah Cinta Yang Tidak Dijaga

Oleh: #JMBELOG • Entri Refleksi • 26 Ogos 2025

Ada cinta yang hadir untuk menguatkan. Ada cinta yang datang untuk menemani. Dan ada juga cinta yang singgah, tetapi akhirnya meninggalkan luka.

Dalam melodi *Penantian Luka*, kita terserempak dengan suara hati yang menunggu — menunggu dengan penuh harapan, namun dikecewakan oleh dusta. Lagu ini bukan sekadar nyanyian; ia adalah catatan jiwa tentang kesetiaan yang dikhianati.

Lirik Lagu

ku tak mampu menahan sakitnya hati yang kurasakan Cinta tlah hancur hatiku terbelah peritku menanti kamu kau hilang dari bayang kau yang membuatkan diriku sepi sepi tanpamu yang selalu di hati telah pergi tinggalkan diriku kau menduakan diriku kau khianati Cinta suci tanpa rela ku melepaskanmu pergi menjauh kau berikan alasan agar diriku lepaskan kamu Cinta dusta yang telah kau balas atas penantianku kau menduakan diriku kau khianati Cinta suci tanpa rela ku melepaskanmu pergi menjauh kau berikan alasan agar diriku lepaskan kamu Cinta dusta yang telah kau balas atas penantianku Cinta dusta yang telah kau balas atas penantianku Official Music Video Song written by : Ippo Hafiz, Lyricist by : Ippo Hafiz

Nota: Lirik disertakan atas bahan yang dikongsikan oleh pemilik blog. Semua kredit untuk pencipta lagu dan lirik.

Renungan Jiwa

Setiap baris lirik seolah-olah membongkar detik ketika kesetiaan diuji. Ada yang memilih untuk berpaling; ada yang memilih untuk menipu. Mereka yang menunggu sering kali bukan sahaja menanggung rindu, tapi juga kehilangan harga diri bila cinta yang diberi tidak dihargai.

Ungkapan "Tanpa rela ku melepaskanmu pergi menjauh" adalah pengakuan yang pahit — bukan kemenangan, tetapi pengorbanan demi keselamatan jiwa sendiri. Menjaga hati bukan bermakna mengekang, tetapi tahu bila untuk melepaskan agar luka tidak terus bersarang.



← #JM2UDARI POS PENGAWAL→
Penulis
- Copyright - 2016 © #JMBELOG

0 Comments:

Catat Ulasan

Komenlah Yang Baik-Baik.
Kerana kata juga ada nyawa.
Apa yang kita tulis, boleh jadi luka atau cahaya.