MONOLOG JIWA – Ya Arhamarrahimin
Ada waktu, aku merasa terlalu lemah. Langkah kaki terasa berat. Dada penuh dengan beban yang sukar ditanggung. Dalam diam aku mengaku: aku ini rapuh — tetapi aku masih punya pegangan.
Ada waktu, aku merasa terlalu lemah. Langkah kaki terasa berat, dada seakan penuh beban yang tak tertanggung. Aku cuba kuat, tapi dalam diam aku tahu — aku ini rapuh.
Namun, di sebalik rapuh itu, aku masih punya satu pegangan: Ya Arhamarrahimin. Dialah yang Maha Pengasih daripada segala yang mengasihani. Dialah tempat aku pulang, ketika tiada siapa yang benar-benar memahami.
Malam ini aku menadah tangan, menumpahkan segalanya tanpa kata.
“Kuatkan hamba-Mu ini menghadapi dugaan-Mu. Bila hatiku goyah, peluklah ia dengan ketenangan. Bila langkahku lemah, angkatlah aku dengan rahmat-Mu. Bila fikiranku kusut, jernihkanlah ia dengan cahaya-Mu. Aku ini hamba-Mu yang lemah, dan hanya dengan kasih sayang-Mu aku mampu bertahan.”
Kekuatan bukanlah bila kita tak pernah jatuh. Kekuatan itu bila kita berani mengaku kita tak mampu, lalu menyerahkan segala-galanya pada Dia yang Maha Penyayang.
Ya Arhamarrahimin, pimpinlah aku dalam setiap sakit dan sembuhku, dalam setiap hilang dan temu, dalam setiap jatuh dan bangunku.
Kerana hanya pada-Mu, segala jiwa menemukan damai.
Doa Malam (ringkas):
Ya Allah, Ya Arhamarrahimin — lapangkan dada ini, ringankan beban, dan gantikan setiap kesedihan dengan hikmah yang meneduhkan. Aamiin.
Cari monolog, puisi jiwa dan catatan hati di sini.
0 Comments:
Catat Ulasan
“Untuk anda yang singgah… tinggalkanlah jejak, tinggalkanlah yang baik-baik, walau sekecil rasa, walau sependek kata.
Kerana setiap kehadiran itu, ada makna yang tak selalu terlihat oleh mata. Dan setiap kata yang kita tinggalkan, akan kembali kepada kita dalam bentuk yang sama.”