Monolog Jiwa – Ayah dan Ibu
Ada lagu yang kita hafal sejak kecil… tapi hanya kita faham bila hati sudah belajar tentang kehilangan.
Lagu “Ayah dan Ibu” bukan sekadar nyanyian. Ia adalah suara halus yang mengingatkan kita tentang asal usul.
“Ayah dan ibu… itulah permulaan kami… Dapat melihat bulan dan matahari…”
Dulu… kita nyanyi tanpa rasa. Sekadar ikut melodi.
Hari ini… setiap bait terasa berat. Seolah-olah ada sesuatu yang mengetuk dada.
“Yang dikurniakan dari Ilahi… Ayah dan ibulah mesti dihormati…”
Ayah mungkin tidak banyak berkata… tapi diamnya penuh pengorbanan.
Ibu pula… diamnya penuh doa yang tak pernah putus.
Dan kita? Kadang terlalu sibuk… sampai lupa untuk kembali.
“Wali-wali keramat… Pada mereka kita beri hormat…”
Lagu ini mengajar sesuatu yang sangat mudah— tapi sering kita abaikan:
Hormatilah mereka… selagi masih ada.
Kerana suatu hari nanti… kita akan rindu suara yang pernah kita abaikan.
Kita akan mencari wajah yang dulu selalu ada.
Dan saat itu… lagu ini tidak lagi sekadar lagu.
Ia menjadi kenangan. Ia menjadi penyesalan. Ia menjadi doa yang terlambat.
Jika hari ini… ayah dan ibu masih ada— pulanglah.
Walau sekejap… walau hanya untuk bertanya,
“Mak… ayah… sihat?”
0 Comments:
Catat Ulasan