Monolog Jiwa – Ayah dan Ibu

Monolog Jiwa – Ayah dan Ibu

Monolog Jiwa – Ayah dan Ibu

Lirik Lagu Ayah dan Ibu
Ayah dan ibuAyah dan ibuItulah permulaan kamiDapat melihat bulan dan matahariAhai
Ayah dan ibuAyah dan ibuItulah permulaan kamiDapat melihat bulan dan matahariAhai
Yang dikurniakan dari IlahiAhaiAyah dan ibuAyah dan ibulah mesti dihormati
Yang dikurniakan dari IlahiAhaiAyah dan ibuAyah dan ibulah mesti dihormati
Ayah dan ibuAyah dan ibuWali wali keramatPada mereka kita beri hormatAhai
Bagilah tunjuk ajar dan nasihatAhai supaya hidupSupaya hidup kita akan selamat

Ada lagu yang kita hafal sejak kecil… tapi hanya kita faham bila hati sudah belajar tentang kehilangan.

Lagu “Ayah dan Ibu” bukan sekadar nyanyian. Ia adalah suara halus yang mengingatkan kita tentang asal usul.

“Ayah dan ibu… itulah permulaan kami… Dapat melihat bulan dan matahari…”

Dulu… kita nyanyi tanpa rasa. Sekadar ikut melodi.

Hari ini… setiap bait terasa berat. Seolah-olah ada sesuatu yang mengetuk dada.

“Yang dikurniakan dari Ilahi… Ayah dan ibulah mesti dihormati…”

Ayah mungkin tidak banyak berkata… tapi diamnya penuh pengorbanan.

Ibu pula… diamnya penuh doa yang tak pernah putus.

Dan kita? Kadang terlalu sibuk… sampai lupa untuk kembali.

“Wali-wali keramat… Pada mereka kita beri hormat…”

Lagu ini mengajar sesuatu yang sangat mudah— tapi sering kita abaikan:

Hormatilah mereka… selagi masih ada.

Kerana suatu hari nanti… kita akan rindu suara yang pernah kita abaikan.

Kita akan mencari wajah yang dulu selalu ada.

Dan saat itu… lagu ini tidak lagi sekadar lagu.

Ia menjadi kenangan. Ia menjadi penyesalan. Ia menjadi doa yang terlambat.

Jika hari ini… ayah dan ibu masih ada— pulanglah.

Walau sekejap… walau hanya untuk bertanya,

“Mak… ayah… sihat?”


Cari monolog, puisi jiwa dan catatan hati di sini.

0 Comments:

Catat Ulasan

“Untuk anda yang singgah… tinggalkanlah jejak, tinggalkanlah yang baik-baik, walau sekecil rasa, walau sependek kata.
Kerana setiap kehadiran itu, ada makna yang tak selalu terlihat oleh mata. Dan setiap kata yang kita tinggalkan, akan kembali kepada kita dalam bentuk yang sama.”